BANDAR LAMPUNG – Di tengah pusaran geopolitik dunia yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, kembali menegaskan arah navigasi diplomatik bangsa. Dalam Pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Lampung, Presiden memastikan bahwa Indonesia akan tetap setia pada garis politik luar negeri bebas aktif.
Menjaga Warisan Pendiri Bangsa: Politik Nonblok
Presiden Prabowo mengungkapkan bahwa kondisi global saat ini berada dalam fase yang sangat dinamis, di mana batas antara kawan dan lawan seringkali menjadi kabur. Namun, bagi Indonesia, pedoman yang ditinggalkan oleh para pendiri bangsa sudah sangat jelas.
“Kita beruntung menerima warisan dari pendiri bangsa kita, bahwa politik luar negeri Indonesia adalah politik non-aligned, politik nonblok,” tegas Presiden Prabowo.
Filosofi 'Seribu Kawan Terlalu Sedikit'
Salah satu poin krusial dalam pidato Presiden adalah prinsip inklusivitas dalam menjalin hubungan internasional. Indonesia memilih untuk tidak terlibat dalam pakta militer manapun, melainkan fokus pada kolaborasi global. Strategi ini dirangkum dalam prinsip:
- Seribu kawan terlalu sedikit: Memperluas jejaring persahabatan ke seluruh penjuru dunia.
- Satu lawan terlalu banyak: Menghindari konfrontasi yang tidak perlu demi stabilitas nasional.
Posisi Strategis Indonesia di Kancah Global
Sebagai negara terbesar di ASEAN, Indonesia kini memiliki posisi tawar yang semakin kuat. Keanggotaan Indonesia di berbagai organisasi internasional menunjukkan fleksibilitas dan pengaruh bangsa yang diperhitungkan:
- Anggota inti ASEAN sebagai pemimpin regional.
- Partisipasi aktif dalam G20 dan APEC untuk stabilitas ekonomi.
- Bergabungnya Indonesia dalam BRICS dan keanggotaan di OKI.
Diplomasi demi Kesejahteraan Rakyat
Presiden menekankan bahwa setiap langkah diplomasi yang diambil, termasuk kunjungan kenegaraan dan komunikasi dengan pemimpin dunia, semata-mata adalah untuk membela kepentingan rakyat. Menjadi 'tetangga yang baik' (Good Neighbor Policy) bukan berarti lemah, melainkan sebuah strategi cerdas untuk memastikan arus investasi dan keamanan nasional terjaga.
Dengan memperkuat fondasi politik luar negeri yang independen, Presiden Prabowo optimistis Indonesia dapat menavigasi tantangan ekonomi global sekaligus menjadi jembatan perdamaian di tengah konflik internasional yang kian memanas.
Disadur dari laporan BPMI Setpres untuk menginformasikan publik mengenai arah kebijakan strategis pemerintah di bidang internasional.